Menjadi Konservatif Serupa Menyumbangkan Kebodohan Pada Peradaban
Sejatinya
islam merupakan agama yang moderat, hal ini tercantum jelas dalam Al-Qur’an
surat Al-Baqarah ayat 143. Dalam ayat itu tercantum bahwa Allah berfirman,:
“Dan demikian pula Kami telah
menjadikan kamu (umat islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat)
kepadanya melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa
yang berbalik kebelakang. Sungguh (pemindaha kiblat) itu sangat berat. Kecuali
bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan
menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha pengasih lagi maha penyayang.”
(Al-Baqarah [2]: 143)
Seperti
itulah firman Allah yang tercantum dala Al-Quran, dengan begitu saya dapat
mengambil kesimpulan bahwa sejatinya islam bukanlah agama yang konservatif,
tertutup dan tak pernah mau menerima pandangan dari pihak manapun. Islam adalah
agama yang terbuka, terbuka untuk berdialog dengan dunia luar, berdialog dengan
kaum lain, dan tidak berpihak pada pihak manapun baik pihak kanan maupun kiri.
Saya juga kemudian tahu bahwa islam adalah agama yang berada di posisi tengah,
netral dan tidak memihak siapapun, seharusnya dengan kondisi seperti ini islam
dapat dengan mudah menerima arus globalisasi dan perkembangan zaman.
Salah
satu kata motivasi yang saya suka adalah “Jangan pernah menyumbang kebodohan
pada peradaban, hanya karena kamu tidak membaca”. Saya selalu mengartikan bahwa
membaca disini adalah bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca segala
instrument yang ada di dunia ini. Membaca keadaan sekitar, membaca situasi,
membaca kondisi, membaca perubahan zaman, membaca karakteristik manusia,
membaca isu-isu disekitar kita dan membaca segala hal yang ada dunia ini.
Pada
faktanya ketika islam berkembang menjadi islam yang konservatif, islam yang
selalu menutup mata, menutup pikiran, dan menutup hatinya pada hal-hal yang
terus mengalami perkembangan secara signifikan, maka bisa dipastikan muslim
yang seperti itu adalah muslim yang menyumbang kebodohan terhadap peradaban
islam. Bagi saya paham konservatif islam
inilah yang harus segera dibenahi, karena bagaimana islam mampu berkembang ketika
islam terlalu ekstrem dan tidak mau membaca keadaan dunia tidak mau berdialog
dengan dunia sedang dunia terus berubah.
Ketika
saya membaca sejarah dunia, saya mulai memahami mengapa peradaban barat mampu
bangkit dari “Dark Age” (masa kegelapan) yang melingkupinya. Pada masa itu
islam berada dalam puncak kejayaanya ketika barat justru terbelakang. Lalu
mengapa masa keemasan itu seolah berbalik? Islam yang dahulu jaya seolah redup
bila dibandingkan dengan peradaban barat saat ini. Mungkin inilah akibatnya
jika islam terlalu konservatif dan tidak mau berubah. Padahal para ulama dan
pembaharu terlah menganjurkan kepada umat muslim sejak lama untuk senantiasa
behenti bersikap taklid dan membuka lebar pintu ijtihad. Maksud dari para
pembaharu itu adalah agar islam kembali pada jati diri aslinya yang bersifat
moderat bukan konservatif. Sehingga moderasi islam itu penting.
Menurut
saya ketika generasi muda muslim pada saat ini sering berkutat pada gadget yang
dimilikinya, dan hobi berselancar di dunia maya juga dunia internet, seharusnya
kita jangan langsung mencap bahwa apa yang dilakukan oleh anak itu adalah
kegiatan negative dan mencap anak tersebut sebagai cikal bakal generasi malas
dan bodoh,. Bagi saya, meng-underestimate
kan generasi millennial dan membanding-bandingkannya dengan generasi sebelumnya
merupakan suatu tindakan yang tidak benar. Lalu apa hubungannya dengan moderasi
islam? Seringkali saya melihat beberapa pemikiran kolot dari orang muslim yang
melarang anaknya untuk melek teknologi, hanya karena tidak mau dianggap sebagai
muslim yang menggunakan produk yang diciptakan oleh non muslim. Menggunakan
produk nonmuslim sama halnya dengan berpihak pada nonmuslim dan mengkhianati
islam. Sungguh hal ini berbanding terbalik dengan sifat islam yang moderat,
bersikap netral bukan berarti memihak nonmuslim tetapi ketika nonmuslim dapat
memberikan pengalaman baru, dan pelajaran baru, apa salahnya untuk bersikap
lebih terbuka?
Saya
kemudian memperhatikan adik saya yang masih duduk di bangku SMP. Orang tua saya
tidak pernah melarang anak-anaknya untuk menggunakan gadget. Dengan syarat
tetap ingat pada kewajiban utamanya sebagai anak dan jangan sampai lupa waktu
ketika menggunakan gadget, karena itulah diberikan waktu khusus bebas memainkan
gadget dalam suatu waktu. Hasilnya, adik saya dapat membuat konten-konten yang
menarik di youtube, dapat berkespresi dan berkarya di dunia internet, bahkan
mencoba programming dan menemukan hobi baru. Ini menunjukan bahwa generasi
millennial muslim dapat diandalkan dan merupakan modal yang baik untuk
peradaban islam di kemudian hari. Ketika kita mampu mengembangkan
potensi-potensi generasi millennial muslim, tentunya langkah pertama yang harus
dilakukan adalah dengan tidak meng-underestimate
generasi millennial muslim dan tidak melarangnya untuk berkarya hanya karena
objek yang dia gunakan untuk berkaraya merupakan ciptaan kaum nonmuslim.
Dengan
pengetahuan agama kuat ditunjang dengan pengetahuan sains, sosial yang juga
sama kuat. Islam dapat mencapai kejayaanya kembali dalam peradaban.
Penyebarluasan informasi agama islam dapat lebih mudah diakses, kita juga dapat
membuat dunia takjub dengan islam ketika kita mampu berkarya di depan mata
dunia.
Poin
utama yang harus kita perhatikan untuk berkarya adalah dengan menjadi pintar,
untuk menjadi pintar kita harus senatiasa membaca. Membaca apapun itu, membaca
segala hal yang ada di dunia, entah itu membaca buku, membaca situasi, membaca kondisi,
membaca zaman, membaca perubahan teknologi, membaca dunia secara terbuka.
Muslim bisa melakukan hal ini, genarasi millennial dapat diandalkan dalam
memajukan peradaban islam, untuk itu kaum muslim jangan berhenti membaca dan
jangan menyumbangkan kebodohan terhadap peradaban hanya karena kaum muslim
konservatif dalam artian tertutup pada dunia di luar islam, dan tertutup pada perkembangan
zaman yang terus berkembang. Karena sejatinya islam itu moderat, maka kita
harus kembangkan lagi moderasi islam dan siap untuk bersaing di era
globalisasi.
Menjadi Konservatif
Serupa Menyumbangkan Kebodohan Pada Peradaban
Sejatinya
islam merupakan agama yang moderat, hal ini tercantum jelas dalam Al-Qur’an
surat Al-Baqarah ayat 143. Dalam ayat itu tercantum bahwa Allah berfirman,:
“Dan demikian pula Kami telah
menjadikan kamu (umat islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas
(perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat)
kepadanya melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa
yang berbalik kebelakang. Sungguh (pemindaha kiblat) itu sangat berat. Kecuali
bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan
menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha pengasih lagi maha penyayang.”
(Al-Baqarah [2]: 143)
Seperti
itulah firman Allah yang tercantum dala Al-Quran, dengan begitu saya dapat
mengambil kesimpulan bahwa sejatinya islam bukanlah agama yang konservatif,
tertutup dan tak pernah mau menerima pandangan dari pihak manapun. Islam adalah
agama yang terbuka, terbuka untuk berdialog dengan dunia luar, berdialog dengan
kaum lain, dan tidak berpihak pada pihak manapun baik pihak kanan maupun kiri.
Saya juga kemudian tahu bahwa islam adalah agama yang berada di posisi tengah,
netral dan tidak memihak siapapun, seharusnya dengan kondisi seperti ini islam
dapat dengan mudah menerima arus globalisasi dan perkembangan zaman.
Salah
satu kata motivasi yang saya suka adalah “Jangan pernah menyumbang kebodohan
pada peradaban, hanya karena kamu tidak membaca”. Saya selalu mengartikan bahwa
membaca disini adalah bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca segala
instrument yang ada di dunia ini. Membaca keadaan sekitar, membaca situasi,
membaca kondisi, membaca perubahan zaman, membaca karakteristik manusia,
membaca isu-isu disekitar kita dan membaca segala hal yang ada dunia ini.
Pada
faktanya ketika islam berkembang menjadi islam yang konservatif, islam yang
selalu menutup mata, menutup pikiran, dan menutup hatinya pada hal-hal yang
terus mengalami perkembangan secara signifikan, maka bisa dipastikan muslim
yang seperti itu adalah muslim yang menyumbang kebodohan terhadap peradaban
islam. Bagi saya paham konservatif islam
inilah yang harus segera dibenahi, karena bagaimana islam mampu berkembang ketika
islam terlalu ekstrem dan tidak mau membaca keadaan dunia tidak mau berdialog
dengan dunia sedang dunia terus berubah.
Ketika
saya membaca sejarah dunia, saya mulai memahami mengapa peradaban barat mampu
bangkit dari “Dark Age” (masa kegelapan) yang melingkupinya. Pada masa itu
islam berada dalam puncak kejayaanya ketika barat justru terbelakang. Lalu
mengapa masa keemasan itu seolah berbalik? Islam yang dahulu jaya seolah redup
bila dibandingkan dengan peradaban barat saat ini. Mungkin inilah akibatnya
jika islam terlalu konservatif dan tidak mau berubah. Padahal para ulama dan
pembaharu terlah menganjurkan kepada umat muslim sejak lama untuk senantiasa
behenti bersikap taklid dan membuka lebar pintu ijtihad. Maksud dari para
pembaharu itu adalah agar islam kembali pada jati diri aslinya yang bersifat
moderat bukan konservatif. Sehingga moderasi islam itu penting.
Menurut
saya ketika generasi muda muslim pada saat ini sering berkutat pada gadget yang
dimilikinya, dan hobi berselancar di dunia maya juga dunia internet, seharusnya
kita jangan langsung mencap bahwa apa yang dilakukan oleh anak itu adalah
kegiatan negative dan mencap anak tersebut sebagai cikal bakal generasi malas
dan bodoh,. Bagi saya, meng-underestimate
kan generasi millennial dan membanding-bandingkannya dengan generasi sebelumnya
merupakan suatu tindakan yang tidak benar. Lalu apa hubungannya dengan moderasi
islam? Seringkali saya melihat beberapa pemikiran kolot dari orang muslim yang
melarang anaknya untuk melek teknologi, hanya karena tidak mau dianggap sebagai
muslim yang menggunakan produk yang diciptakan oleh non muslim. Menggunakan
produk nonmuslim sama halnya dengan berpihak pada nonmuslim dan mengkhianati
islam. Sungguh hal ini berbanding terbalik dengan sifat islam yang moderat,
bersikap netral bukan berarti memihak nonmuslim tetapi ketika nonmuslim dapat
memberikan pengalaman baru, dan pelajaran baru, apa salahnya untuk bersikap
lebih terbuka?
Saya
kemudian memperhatikan adik saya yang masih duduk di bangku SMP. Orang tua saya
tidak pernah melarang anak-anaknya untuk menggunakan gadget. Dengan syarat
tetap ingat pada kewajiban utamanya sebagai anak dan jangan sampai lupa waktu
ketika menggunakan gadget, karena itulah diberikan waktu khusus bebas memainkan
gadget dalam suatu waktu. Hasilnya, adik saya dapat membuat konten-konten yang
menarik di youtube, dapat berkespresi dan berkarya di dunia internet, bahkan
mencoba programming dan menemukan hobi baru. Ini menunjukan bahwa generasi
millennial muslim dapat diandalkan dan merupakan modal yang baik untuk
peradaban islam di kemudian hari. Ketika kita mampu mengembangkan
potensi-potensi generasi millennial muslim, tentunya langkah pertama yang harus
dilakukan adalah dengan tidak meng-underestimate
generasi millennial muslim dan tidak melarangnya untuk berkarya hanya karena
objek yang dia gunakan untuk berkaraya merupakan ciptaan kaum nonmuslim.
Dengan
pengetahuan agama kuat ditunjang dengan pengetahuan sains, sosial yang juga
sama kuat. Islam dapat mencapai kejayaanya kembali dalam peradaban.
Penyebarluasan informasi agama islam dapat lebih mudah diakses, kita juga dapat
membuat dunia takjub dengan islam ketika kita mampu berkarya di depan mata
dunia.
Poin
utama yang harus kita perhatikan untuk berkarya adalah dengan menjadi pintar,
untuk menjadi pintar kita harus senatiasa membaca. Membaca apapun itu, membaca
segala hal yang ada di dunia, entah itu membaca buku, membaca situasi, membaca kondisi,
membaca zaman, membaca perubahan teknologi, membaca dunia secara terbuka.
Muslim bisa melakukan hal ini, genarasi millennial dapat diandalkan dalam
memajukan peradaban islam, untuk itu kaum muslim jangan berhenti membaca dan
jangan menyumbangkan kebodohan terhadap peradaban hanya karena kaum muslim
konservatif dalam artian tertutup pada dunia di luar islam, dan tertutup pada perkembangan
zaman yang terus berkembang. Karena sejatinya islam itu moderat, maka kita
harus kembangkan lagi moderasi islam dan siap untuk bersaing di era
globalisasi.
Label: Opini



